Search posts by:

Search posts by:

Newsletter successfully sent
Failed to send newletter

NewsSSESSMENTS: Permintaan Spot Petrokimia India Terlihat Mengalami Rebound Setelah Pemerintah Melonggarkan Pembatasan Lockdown

Author: SSESSMENTS

Pemerintah India telah memutuskan untuk memperpanjang lockdown nasional untuk mencegah pandemi coronavirus selama dua pekan yang berlaku mulai tanggal 4 Mei. Namun, India juga menguraikan beberapa pedoman baru, yang memungkinkan beberapa bisnis di luar zona penahanan untuk dibuka kembali. Para pelaku pasar memperkirakan permintaan dan harga petrokimia meningkat sejalan dengan dimulainya kembali bisnis.

Sumber-sumber pasar menginformasikan kepada SSESSMENTS.COM bahwa harga metanol bekas tangki turun sebanyak INR20/kg (26 sen/kg) di Mumbai dan sebanyak INR18/kg (24 sen/kg) di Kandla, dibandingkan dengan sebanyak INR22-23/kg pada bulan Maret. Sementara itu, acrylonitrile Asia mengalami rebound sebesar $60/ton menjadi harga $880/ton dalam basis CFR Asia Selatan pada hari Selasa lalu.

Pabrik kembali beroperasi, bagaimanapun, diperkirakan melambat setelah terjadi kebocoran gas yang mematikan di pabrik milik LG Polymers India. Sumber pasar mengatakan insiden itu kemungkinan akan memperlambat permintaan India untuk styrene impor. LGPI mengimpor styrene rata-rata sekitar 10.000 ton setiap bulan. Sebelumnya, SSESSMENTS.COM juga melaporkan bahwa Otoritas Manajemen Bencana Nasional India memberlakukan peraturan keselamatan bagi industri manufaktur yang yang memulai operasi kembali secara nasional di tengah pelonggaran lockdown coronavirus di negara tersebut.

Para pelaku pasar memberitahu SSESSMENTS.COM bahwa Haldia Petrochemicals Ltd. memulai kembali aktivitas operasi cracker uap pada akhir bulan April dan sekarang mengoperasikan unit tersebut secara normal. Cracker tersebut dihentikan pada tanggal 24 Maret didorong oleh lemahnya permintaan di tengah lockdown nasional negara itu. Cracker Haldia dapat memproduksi ethylene hingga 670.000 ton/tahun,  propylene sebanyak 425.000 ton/tahun, dan butadiene sebanyak 97.000 ton/tahun. Output tersebut digunakan untuk unit PP milik perusahaan itu dengan kapasitas produksi sebanyak 340.000 ton/tahun, unit HDPE dengan kapasitas produksi sebanyak 550.000 ton/tahun, dan pabrik HDPE/LLDPE Swing dengan kapasitas produksi sebanyak 150.000 ton/tahun.

Permintaan PE menurun selama lockdown nasional, tetapi para pelaku pasar sekarang memperkirakan permintaan akan naik di tengah pelonggaran pembatasan ini. Sebelumnya selama lockdown, India mengekspor PVC karena permintaan domestik melemah. Namun, aliran perdagangan yang langka ini diperkirakan akan berhenti dan India akan melanjutkan PVC impor dari pemasok Asia setelah terjadi pelonggaran lockdown.

Tags: Butadiene,Ethylene,ISC,India,Indonesian,Methanol,News,PE,PET,PVC,Propylene,Styrene,Styrenics

Published on May 13, 2020 1:40 PM (GMT+8)
Last Updated on May 13, 2020 1:40 PM (GMT+8)